Thursday, June 25, 2009

Detik-detik terakhir Rasulullah SAW menghadapi sakratulmaut...

Utk Renungan Bersama .
Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar adanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin , kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku",
peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan."Ummatii, ummatii, ummatiii?" -
"Umatku, umatku, umatku" Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin....

Khutbah Nabi Mengenai Dajjal

Sahabat2ku.. . Renungan untuk kite kongsi bersama.. Semoga Allah lindungikite semue. Amin.
Dari Abi Umamah Al-Bahiliy, beliau berkata: "Rasululah s.a.w telahberkhutbah di hadapan kami. Dalam khutbahnya itu Baginda banyak menyentuhmasalah Dajjal. Baginda telah bersabda: "Sesungguhnya tidak ada fitnah(kerosakan) di muka bumi yang paling hebat selain daripada fitnah yangdibawa oleh Dajjal. Setiap Nabi yang diutus oleh Allah SWT adamengingatkan> kaumnya tentang Dajjal. Aku adalah nabi yang terakhirsedangkan kamu adalahumat yang terakhir. Dajjal itu tidak mustahil datangpada generasi(angkatan) kamu. Seandainya dia datang sedangkan aku masih adadi tengah-tengah kamu, maka aku adalah sebagai pembela bagi setiap mukmin.Kalau dia datang sesudah kematianku, maka setiap orang menjaga dirinya.Dansebenarnya Allah SWT akan menjaga orang-orang mukmin."Dajjal itu akan datang nanti dari satu tempat antara Syam dan Irak. Danmempengaruhi manusia dengan begitu cepat sekali. Wahai hamba Allah, wahaimanusia, tetaplah kamu. Di sini akan saya terangkan kepada kamuciri-ciriDajjal, yang belum diterangkan oleh nabi-nabi sebelumku kepadaumatnya."Pada mulanya nanti Dajjal itu mengaku dirinya sebagai nabi. Ingatlah,tidak ada lagi nabi sesudah aku. Setelah itu nanti dia mengaku sebagaiTuhan. Ingatlah bahawa Tuhan yang benar tidak mungkin kamu lihat sebelumkamu mati. Dajjal itu cacat matanya sedangkan Allah SWT tidak cacat, bahkantidak sama dengan baharu. Dan juga di antara dua mata Dajjal itu tertulisKAFIR, yang dapat dibaca oleh setiap mukmin yang pandai membaca atau butahuruf."Di antara fitnah Dajjal itu juga dia membawa syurga dan neraka. Nerakanyaitu sebenarnya syurganya sedangkan syurganya itu neraka, yakni panas.Sesiapa di antara kamu yang disiksanya dengan nerakanya, hendaklah diameminta pertolongan kepada Allah dan hendaklah dia membaca pangkal surahAl-Kahfi, maka nerakanya itu akan sejuk sebagaimana api yang membakar NabiIbrahim itu menjadi sejuk."Di antara tipu dayanya itu juga dia berkata kepada orang Arab:"Seandainya aku sanggup menghidupkan ayah atau ibumu yang sudah lamameninggal dunia itu, apakah engkau mengaku aku sebagai Tuhanmu?" Orang Arabitu akan berkata: "Tentu." Maka syaitan pun datang menyamar seperti ayahatau ibunya.Rupanya sama, sifat-sifatnya sama dan suaranya pun sama. Ibu-bapanyaberkata kepadanya: "Wahai anakku, ikutilah dia, sesungguhnya dialahTuhanmu.""Di antara tipu dayanya juga dia tipu seseorang, yakni dia bunuh dan diabelah dua. Setelah itu dia katakan kepada orang ramai: "Lihatlah apa yangakan kulakukan terhadap hambaku ini, sekarang akan kuhidupkan dia semula.Dengan izin Allah orang mati tadi hidup semula. Kemudian Laknatullah Alaihitu bertanya: "Siapa Tuhanmu?" Orang yang dia bunuh itu, yang kebetulanorang beriman, menjawab: "Tuhanku adalah Allah, sedangkan engkau adalahmusuh Allah." Orang itu bererti lulus dalam ujian Allah dan dia termasukorang yang paling tinggi darjatnya di syurga."Kata Rasulullah s.a.w lagi: "Di antara tipu dayanya juga dia suruh langitsupaya menurunkan hujan tiba-tiba hujan pun turun. Dia suruh bumi supayamengeluarkan tumbuh-tumbuhannya tiba-tiba tumbuh. Dan termasuk ujian yangpaling berat bagi manusia, Dajjal itu datang ke perkampungan orang-orangbaik dan mereka tidak mengakunya sebagai Tuhan, maka disebabkan yangdemikian itu tanam-tanaman dan ternakan mereka tidak menjadi."Dajjal itu datang ke tempat orang-orang yang percaya kepadanya danpendudukkampung itu mengakunya sebagai Tuhan. Disebabkan yang demikian hujan turundi tempat mereka dan tanam-tanaman mereka pun menjadi. "Tidak ada kampungatau daerah di dunia ini yang tidak didatangi Dajjal kecuali Makkah danMadinah. Kedua-dua kota itu tidak dapat ditembusi oleh Dajjal keranadikawal oleh Malaikat. Dia hanya berani menginjak pinggiran Makkah danMadinah. Namun demikian ketika Dajjal datang ke pergunungan di luar kotaMadinah, kota Madinah bergoncang seperti gempa bumi. Ketika itu orang-orangmunafik kepanasan seperti cacing dan tidak tahan lagi tinggal di Madinah.Mereka keluar dan pergi bergabung dengan orang-orang yang sudah menjadipengikut Dajjal. Inilah yang dikatakan hari pembersihan kotaMadinah.Dalam hadis yang lain, "di antara fitnah atau tipu daya yang dibawanya itu,Dajjal itu lalu di satu tempat kemudian mereka mendustakannya (tidakberiman kepadanya), maka disebabkan yang demikian itu tanam-tanaman merekatidak menjadi dan hujan pun tidak turun di daerah mereka. Kemudian dia laludi satu tempat mengajak mereka supaya beriman kepadanya. Mereka pun berimankepadanya. Maka disebabkan yang demikian itu Dajjal menyuruh langit supayamenurunkan hujannya dan menyuruh bumi supaya menumbuhkantumbuh-tumbuhannya. Maka mereka mudah mendapatkan air dan tanam-tanamanmereka subur."Dari Anas bin Malik, katanya Rasulullah s.a.w bersabda: "Menjelang turunnyaDajjal ada tahun-tahun tipu daya, iaitu tahun orang-orang pendustadipercayai orang dan orang jujur tidak dipercayai. Orang yang tidak amanahdipercayai dan orang amanah tidak dipercayai."Dari Jabir bin Abdullah, katanya Rasulullah s.a.w ada bersabda: "Bumi yangpaling baik adalah Madinah. Pada waktu datangnya Dajjal nanti ia dikawaloleh malaikat. Dajjal tidak sanggup memasuki Madinah. Pada waktu datangnyaDajjal (di luar Madinah), kota Madinah bergegar tiga kali. Orang-orangmunafik yang ada di Madinah (lelaki atau perempuan) bagaikan cacingkepanasan kemudian mereka keluar meninggalkan Madinah. Kaum wanita adalahyang paling banyak lari ketika itu. Itulah yang dikatakan hari pembersihan.Madinah membersihkan kotorannya seperti tukang besi membersihkankarat-karat besi."Diriwayatkan oleh Ahmad, hadis yang diterima dari Aisyah r.a. mengatakan:"Pernah satu hari Rasulullah s.a.w masuk ke rumahku ketika aku sedangmenangis. Melihat saya menangis beliau bertanya: "Mengapa menangis?" Sayamenjawab: "Ya Rasulullah, engkau telah menceritakan Dajjal, maka saya takutmendengarnya. " Rasulullah s.a.w berkata: "Seandainya Dajjal datang padawaktu aku masih hidup, maka aku akan menjaga kamu dari gangguannya. Kalaudia datang setelah kematianku, maka Tuhan kamu tidak buta dan cacat."Dari Jabir bin Abdullah, katanya Rasulullah s.a.w bersabda: "Dajjal munculpada waktu orang tidak berpegang kepada agama dan jahil tentang agama. Padazaman Dajjal ada empat puluh hari, yang mana satu hari terasa bagaikansetahun, ada satu hari yang terasa bagaikan sebulan, ada satu hari yangterasa satu minggu, kemudian hari-hari berikutnya seperti hari biasa."Ada yang bertanya: "Ya Rasulullah, tentang hari yang terasa satu tahun itu,apakah boleh kami solat lima waktu juga?" Rasulullah s.a.w menjawab:"Ukurlah berapa jarak solat yang lima waktu itu." Menurut riwayat Dajjalitu nanti akan berkata: "Akulah Tuhan sekalian alam, dan matahari iniberjalan dengan izinku. Apakah kamu bermaksud menahannya?" Katanya sambilditahannya matahari itu, sehingga satu hari lamanya menjadi satu mingguatau satu bulan.Setelah dia tunjukkan kehebatannya menahan matahari itu, dia berkata kepadamanusia: "Sekarang apakah kamu ingin supaya matahari itu berjalan?" Merekasemua menjawab: "Ya, kami ingin." Maka dia tunjukkan lagi kehebatannyadengan menjadikan satu hari begitu cepat berjalan.Menurut riwayat Muslim, Rasulullah s.a.w bersabda: "Akan keluarlah Dajjalkepada umatku dan dia akan hidup di tengah-tengah mereka selama empatpuluh.Saya sendiri pun tidak pasti apakah empat puluh hari, empat puluh bulanatau empat puluh tahun. Kemudian Allah SWT mengutus Isa bin Maryam yangrupanya seolah-olah Urwah bin Mas'ud dan kemudian membunuh Dajjal itu."Dan menurut ceritanya setelah munculnya Dajjal hampir semua penduduk duniamenjadi kafir, yakni beriman kepada Dajjal. Menurut ceritanya orang yangtetap dalam iman hanya tinggal 12,000 lelaki dan 7,000 kaum wanita.Sabda Rasulullah : "Sebarkanlah walau seayat."

Khutbah Terakhir Nabi Muhammad S.A.W.

Khutbah ini disampaikan pada 9hb. Zulhijah Tahun 10 Hijrah DiLembah Uranah, Gunung Arafah.Wahai manusia, dengarlah baik-baik apa yang kukatakan, Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir disini pada hari ini.Wahai manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci.Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak.Janganlah kamu sakiti sesiapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu lagi.Ingatlah bahawa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan diatas segala amalan kamu.Allah telah mengharamkan riba, oleh itu segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu dan mereka juga mempunyai hak di atas kamu.Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang.Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik,berlemah lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia.Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai kedalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kata ku ini, sembahlah Allah, dirikanlah solat lima kali sehari,berpuasalah dibulan Ramadhan dan tunaikan zakat dari harta kekayaan kamu.Kerjakanlah 'Ibadah Haji' sekiranya kamu mampu.Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada muslim yang lain.Kamu semua adalah sama, tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam Taqwa dan beramal soleh.Ingatlah, bahawa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabka­n diatas segala apa yang telah kamu kerjakan.Oleh itu awasilah agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru.Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu.Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al Quran dan Sunnahku.Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dariku. Saksikanlah Ya Allah, bahawasanya telah ku sampaikan risalah Mu kepada hamba-hambaMU...

Hadis Palsu Rejab, Syaaban

Hadis Palsu Rejab, Syaaban
Disiarkan pada Jun 23, 2009 dalam kategori Ibadat
Artikel ini merupakan Himpunan penulisan Dr Mohd Asri Bin Zainul Abidin yang terdahulu dicadangkan untuk bacaan bersempena bulan Rejab.
Agama wajib dipelihara ketulenannya supaya tidak berlaku campur aduk antara rekaan manusia dan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika agama boleh direka cipta, maka wahyu sudah tentu tidak diperlukan, juga Rasul tidak perlu diutuskan. Oleh itu Islam mengharamkan pembohongan di atas nama agama.
Dalam persoalan hadis, ramai kalangan kita yang begitu tidak berdisiplin dalam memetik hadis-hadis Nabi s.a.w., begitu juga dalam menghuraikannya. Sebahagiannya langsung tidak mengambil berat persoalan kethabitan iaitu kepastian di atas ketulenan sesebuah hadis.
Apa sahaja yang dikatakan hadis terus sahaja dibacakan kepada masyarakat tanpa meneliti takhrij dan tahqiq (keputusan) para ulama hadis terhadap kedudukannya.
Lebih malang ada yang menyangka apa sahaja yang dikatakan hadis maka pastinya sahih dan wajib diimani.
Dengan itu apa sahaja yang mereka temui daripada buku bacaan, yang dikatakan hadis maka mereka terus sandarkan kepada Nabi s.a.w. tanpa usul periksa, sedangkan mereka lupa akan amaran yang diberikan oleh baginda Nabi s.a.w. dalam hadis yang mutawatir: “Sesungguhnya berdusta ke atasku (menggunakan namaku) bukanlah seperti berdusta ke atas orang lain (menggunakan nama orang lain).
“Sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, maka siaplah tempat duduknya dalam neraka.” (Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan selain mereka).
Berbohong menggunakan nama Nabi s.a.w. adalah satu jenayah yang dianggap sangat berat di dalam Islam. Perbohongan atau berdusta menggunakan Nabi s.a.w. adalah menyandar sesuatu perkataan, atau perbuatan, atau pengakuan kepada Nabi s.a.w. secara dusta, yang mana baginda tidak ada kaitan dengannya.
Ini seperti menyebut Nabi s.a.w. bersabda sesuatu yang baginda tidak pernah bersabda, atau berbuat, atau mengakui sesuatu yang baginda tidak pernah melakukannya.
Maka sesuatu yang dikaitkan dengan Nabi s.a.w. sama ada perkataan, atau perbuatan atau pengakuan, maka ia disebut sebagai al-hadis.
Namun menyandar sesuatu kepada Nabi s.a.w. secara dusta, bukanlah hadis pada hakikatnya. Cuma ia disebut hadis berdasar apa yang didakwa oleh perekanya dan ditambah perkataan al-Maudu’, atau al-Mukhtalaq iaitu palsu, atau rekaan. Maka hadis palsu ialah: “Hadis yang disandarkan kepada Nabi s.a.w. secara dusta, ia tidak ada hubungan dengan Nabi s.a.w.” (lihat: Nur al-Din Itr, Manhaj al-Nadq fi ‘Ulum al-Hadis, m.s.301, cetakan: Dar al-Fikr al-Mu‘asarah, Beirut).
Perbuatan ini adalah jenayah memalsu ciptakan agama, kerana Nabi adalah sumber pengambilan agama. Seperti seseorang yang memalsukan pasport di atas nama sesebuah kerajaan. Ia sebenarnya melakukan pembohongan dan jenayah terhadap kerajaan tersebut.
Kedudukan Nabi s.a.w. tentunya lebih besar dan agung untuk dibandingkan. Oleh itu dalam riwayat yang lain Nabi s.a.w. menyebut: “Jangan kamu berdusta ke atasku, sesiapa berdusta ke atasku maka dia masuk neraka.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim). Kata al-Hafizd Ibn Hajar al-‘Asqalani (meninggal 852H) dalam mengulas hadis ini: “Ia merangkumi setiap pendusta ke atas Nabi s.a.w. dan semua jenis pendustaan ke atas baginda.”
Mendengar
Maksudnya: “Jangan kamu sandarkan pendustaan ke atasku (menggunakan namaku)” (rujukan: Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, jld 1, m.s. 270, cetakan: Dar al-Fikr, Beirut).
Bukan sahaja membuat hadis palsu itu haram, bahkan meriwayatkannya tanpa diterang kepada orang yang mendengar bahawa ia adalah hadis palsu juga adalah sesuatu yang haram.
Kata al-Imam Ibn al-Salah (meninggal 643H): “Tidak halal kepada sesiapa yang mengetahui ia hadis palsu meriwayatkannya dalam apa bentuk sekalipun, melainkan disertai dengan menerangkan kepalsuannya.” (Ibn al-Salah,‘Ulum al-Hadis, m.s. 98)
Misalnya di tanah air kita, didapati apabila munculnya bulan Rejab dan Syaaban maka hadis-hadis palsu mengenai bulan-bulan tersebut akan dibaca dan diajar secara meluas. Antaranya hadis: “Rejab bulan Allah, Syaaban bulanku dan Ramadan bulan umatku.”
Ini adalah hadis palsu yang direka oleh Ibn Jahdam. (lihat: Ibn Qayyim al-Jauziyyah, al-Manar al-Munif fi al-Sahih wa al-Dha‘if, m.s. 95, cetakan: Maktab al-Matbu‘at al-Islamiyyah, Halab, Syria). Nama penuh Ibn Jahdam ialah Ali bin Abdillah bin Jahdam al-Zahid.
Ibn Jahdam meninggal pada tahun 414H. Beliau adalah seorang guru sufi di Mekah. Dia juga dituduh membuat hadis palsu mengenai solat Raghaib (iaitu solat pada Jumaat pertama bulan Rejab). (lihat: al-Imam al-Zahabi, Mizan al-‘Itidal fi Naqd al-Rijal,. 5, m.s. 173, cetakan: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut).
Sebab itulah al-Imam Ibn al-Salah (meninggal 643H) menyebut: Ada beberapa golongan yang membuat hadis palsu, yang paling bahaya ialah puak yang menyandarkan diri mereka kepada zuhud (golongan sufi).
Mereka ini membuat hadis palsu dengan dakwaan untuk mendapatkan pahala. Maka orang ramai pun menerima pendustaan mereka atas thiqah (kepercayaan) dan kecenderungan kepada mereka.
Kemudian bangkitlah tokoh-tokoh hadis mendedahkan keburukan mereka ini dan menghapuskannya. Alhamdulillah. (Ibn al-Salah, ‘Ulum al-Hadis, m.s. 99)
Golongan penceramah, imam, khatib, dan media massa pula, ada menjadi ejen menyebarkan hadis-hadis palsu mengenai amalan-amalan yang dikatakan disunatkan pada bulan-bulan tersebut.
Kata al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah (wafat 751H): Hadis-hadis mengenai solat Raghaib pada Jumaat pertama bulan Rejab kesemuanya itu adalah palsu dan dusta ke atas Rasulullah s.a.w.
Begitu juga semua hadis mengenai puasa bulan Rejab dan solat pada malam-malam tertentu adalah dusta ke atas Nabi s.a.w. Demikian juga hadis-hadis mengenai solat pada malam Nisfu Syaaban (kesemuanya adalah palsu).
Solat-solat ini direka selepas empat ratus tahun munculnya Islam (Ibn al-Qayyim, al-Manar al-Munif, m.s. 95-98).
Sebenarnya hadis sahih mengenai kebaikan malam Nisfu Syaaban itu memang ada, tetapi amalan-amalan tertentu khas pada malam tersebut adalah palsu.

Hadis yang boleh dipegang dalam masalah Nisfu Syaaban ialah: “Allah melihat kepada hamba-hamba-Nya pada malam Nisfu Syaaban, maka Dia ampuni semua hamba-hambaNya kecuali musyrik (orang yang syirik) dan yang bermusuh (orang benci membenci) (Riwayat Ibn Hibban, al-Bazzar dan lain-lain).
Al-Albani mensahihkan hadis ini dalam Silsilah al-Ahadis al-Sahihah. (jilid 3, m.s. 135, cetakan: Maktabah al-Ma‘arf, Riyadh).
Hadis ini tidak mengajar kita apakah bentuk amalan malam berkenaan. Oleh itu, amalan-amalan khas tertentu pada malam tersebut bukan dari ajaran Nabi s.a.w.
Kata Dr. Yusuf al-Qaradawi dalam menjawab soalan berhubung dengan Nisfu Syaaban: “Tidak pernah diriwayatkan daripada Nabi s.a.w. dan para sahabat bahawa mereka berhimpun di masjid untuk menghidupkan malam Nisfu Syaaban, membaca doa tertentu dan solat tertentu seperti yang kita lihat pada sebahagian negeri orang Islam.”
Bahkan di sebahagian negeri, orang ramai berhimpun pada malam tersebut selepas maghrib di masjid.
Mereka membaca surah Yasin dan solat dua rakaat dengan niat panjang umur, dua rakaat yang lain pula dengan niat tidak bergantung kepada manusia, kemudian mereka membaca doa yang tidak pernah dipetik dari golongan salaf (para sahabah, tabi‘in dan tabi’ tabi‘in). Ia satu doa yang panjang, yang menyanggahi nusus (al-Quran dan sunah) juga bercanggahan dan bertentang maknanya.
Ibadat
Perhimpunan (malam Nisfu Syaaban) seperti yang kita lihat dan dengar yang berlaku di sebahagian negeri orang Islam adalah bidaah dan diada-adakan. Sepatutnya kita melakukan ibadat sekadar yang dinyatakan dalam nas.
Segala kebaikan itu ialah mengikut salaf, segala keburukan itu ialah bidaah golongan selepas mereka, dan setiap yang diadakan-adakan itu bidaah, dan setiap yang bidaah itu sesat dan setiap yang sesat itu dalam neraka. (Dr. Yusuf al-Qaradawi, fatawa Mu‘asarah jilid 1, m.s. 382-383, cetakan: Dar Uli al-Nuha, Beirut).
Inilah kenyataan Dr. Yusuf al-Qaradawi, seorang tokoh ulama umat yang sederhana dan dihormati.
Namun dalam masalah ini beliau agak tegas kerana ia bercanggah dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w.
Justeru, hadis-hadis palsu mengenai Rejab dan Syaaban ini hendaklah dihentikan dari disebarkan ke dalam masyarakat. Kita perlu kembali kepada agama yang tulen.
Hasil dari memudah-mudahkan dalam hal seperti ini maka muncullah golongan agama yang suka mendakwa perkara yang bukan-bukan.
Dengan menggunakan nama agama segala rekaan baru dibuat untuk kepentingan diri dan kumpulan. Islam tidak pernah memberi kuasa kepada golongan agama, atau sesiapa sahaja untuk mendakwa apa yang dia suka kemudian menyandarkannya kepada agama.
Agama kita rujukannya ialah al-Quran dan al-sunah yang dipastikan kesabitannya mengikut yang diputuskan oleh para ulama hadis. Kata al-Syeikh Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah (seorang ulama hadis al-Azhar): “Masih ada para penceramah yang tidak ada ilmu hadis, sama ada ilmu riwayat atau dirayah (mengenai teks hadis).”
Mereka hanya membaca hadis apa yang mereka hafal dan dari tulisan-tulisan tanpa mengetahui kedudukan hadis tersebut.
Apa yang mereka pentingkan hanyalah reda orang ramai. Lalu mereka menyebut perkara yang berlebih-lebih, pelik dan ajaib yang Islam tiada kaitan dengannya.
Mereka ini sepatutnya dihalang dari berceramah, memberi nasihat dan bertazkirah. (Abu Syahbah, al-Wasit fi ‘Ulum wa al-Mustalah al-Hadis, m.s. 322, cetakan: Dar al-Fikr al-‘Arabi, Kaherah).
Saya menyeru diri sendiri, para penceramah, ustaz-ustaz, media elektronik dan cetak, bahkan semua pihak yang membaca sesuatu hadis memastikan kesahihannya dahulu. Semoga Rejab dan Syaaban tahun ini tidak dibaluti dengan pembohongan terhadap Nabi s.a.w.
Hadith Rejab Bulan Allah, Sya’ban Bulan Nabi